Home / Breaking News

Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:02 WIB

kemiskinan dan Pengangguran Di Aceh Isu Paling Mendasar DiAceh

REDAKSI - Penulis Berita

Banda Aceh, news ceoaceh.

Hasil evaluasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2026 membuka kontras tajam dalam arah kebijakan fiskal Pemerintah Aceh di bawah pemerintahan duet Muzakir Manaf – Fadhlullah (Mualem – Dek Fadh).

 

Dari total belanja daerah sebesar Rp10,82 triliun, anggaran untuk mengatasi kemiskinan hanya dialokasikan Rp362 miliar dan pengangguran Rp49 miliar, sementara belanja birokrasi justru menyerap hingga Rp7,4 triliun.

 

Evaluasi Kemendagri tersebut memperlihatkan bahwa isu kemiskinan dan pengangguran—dua persoalan paling mendasar yang dihadapi rakyat Aceh—tidak ditempatkan sebagai prioritas utama dalam struktur anggaran. Penurunan kemiskinan hanya mendapat porsi 3,35 persen, sedangkan penciptaan lapangan kerja yang berkaitan langsung dengan pengurangan pengangguran hanya 0,45 persen dari total belanja daerah.

 

Minimnya anggaran penciptaan lapangan kerja menjadi sorotan serius jika dikaitkan dengan kondisi ketenagakerjaan Aceh saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh yang dipaparkan pada 7 Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh pada 2025 tercatat sebesar 5,60 persen. Artinya, sekitar enam dari setiap 100 orang angkatan kerja di Aceh masih belum memperoleh pekerjaan.

Baca Juga :  HIMAKO Universitas Malikussaleh Gelar Pekan Ilmiah Kreativitas Mahasiswa (PIKM) Jilid 7 dengan Meriahkan 90's Games dan Penampilan Menarik

 

Kepala BPS Aceh, Agus Andria, menjelaskan bahwa meskipun pengangguran mengalami penurunan tipis dibandingkan Agustus 2025, struktur pengangguran Aceh masih didominasi kelompok berpendidikan tinggi. Lulusan Diploma IV hingga S3 mencatat tingkat pengangguran tertinggi, mencapai 8,68 persen. Kondisi serupa juga dialami lulusan SMK sebesar 8,66 persen dan SMA 6,92 persen.

 

Selain itu, pengangguran perempuan di Aceh tercatat lebih tinggi dibandingkan laki-laki, masing-masing 8,33 persen dan 4,02 persen. Wilayah perkotaan juga mencatat tingkat pengangguran yang lebih tinggi, yakni 8,12 persen, sementara di pedesaan sebesar 3,85 persen. Data ini menunjukkan bahwa persoalan pengangguran di Aceh bersifat struktural dan membutuhkan intervensi kebijakan yang serius dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Partisipasi Pemilih Aceh Besar Lampaui Target Nasional

 

Namun, dengan anggaran penciptaan lapangan kerja hanya Rp49 miliar, publik patut mempertanyakan sejauh mana APBA 2026 mampu menjawab persoalan tersebut. Angka ini dinilai tidak sebanding dengan skala masalah pengangguran yang dihadapi Aceh, terutama di kalangan lulusan pendidikan menengah dan tinggi.

 

Sementara itu, anggaran penurunan kemiskinan sebesar Rp362 miliar juga dinilai belum mencerminkan keberpihakan yang kuat kepada kelompok masyarakat rentan. Selama bertahun-tahun, Aceh masih berada di jajaran provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Sumatra. Dengan porsi anggaran yang relatif kecil, upaya pengentasan kemiskinan dikhawatirkan hanya bersifat programatik dan jangka pendek.

Share :

Baca Juga

Breaking News

Kepala KAJARI Mengikuti Kegiatan Penyerahan DIPA

Breaking News

Sekda Bersilaturrahmi dengan Warga Gampong Geunteng Barat dan Santri Dayah Qaryatul Huda

Breaking News

Muharam Pastikan IPDN diBangun Kembali

Breaking News

KAI-Kejati Jatim Diskusikan Legalitas Aset Tanah, Rumah KAI

Breaking News

Selamat dan Sukses PJ Bupati Aceh Tenggara

Breaking News

Sosialisasi Pangan Sehat, Masa Depan Cerah untuk Siswa SD Negeri 3 Muara Dua

Breaking News

Dirreskrimsus Polda Aceh Pantau Lokasi Tambang Ilegal Lewat Udara

Breaking News

Ribuan Masyarakat Mutiara Raya Meramaikan Silaturrahmi Isra’ Mi’raj dan Ulang Tahun Partai Gerindra: Dek Fad Ajak Pidie Bersatu Demi Kemajuan Daerah