cceoaceh.com
Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat, lulusan perguruan tinggi menjadi kelompok yang menyumbang pengangguran terbanyak di Tanah Rencong.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria menjelaskan, berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), pada November 2025, persentase pengangguran di Aceh tamatan Diploma IV/S1/S2/S3, sebesar 8,68 persen.
“Sementara itu, persentase pengangguran yang terendah adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama dan tamatan SD ke bawah, masing-masing sebesar 3,15 persen dan 2,59 persen,” kata Agus, Kamis (5/2/2026).
Secara rinci, Agus menyebut, setelah perguruan tinggi, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi penyumbang pengangguran urutan kedua berdasarkan pendidikan tertinggi, yakni tercatat sebesar 8,66 persen.
Kemudian, disusul lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) 6,92 persen; Diploma I/II/III 6,13 persen; Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3,15 persen; serta lulusan SD ke bawah sebesar 2,59 persen.
Lebih lanjut, Agus mengungkap, penduduk usia kerja di Aceh pada November 2025, berjumlah 4,172 juta orang.
Namun, sebagian besar penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja, yaitu 2,717 juta orang.
Sisanya termasuk bukan angkatan kerja sebanyak 1,455 juta orang.
Komposisi angkatan kerja pada November 2025 terdiri dari 2,565 juta orang penduduk bekerja dan 152 ribu orang pengangguran.
“Apabila dibandingkan Agustus 2025, jumlah angkatan kerja dan penduduk yang bekerja masing-masing bertambah sebanyak 2.410 orang dan 3.370 orang,” urai Agus.
“Sementara jumlah pengangguran turun sebanyak 960 orang,” jelasnya.
Ia menyebutkan, salah satu indikator ketenagakerjaan terpenting adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).
Di mana, TPT merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja.
Berdasarkan Sakernas November 2025, TPT sebesar 5,60 persen.
Hal ini berarti, dari 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar lima sampai enam orang jadi pengangguran.
“TPT mengalami penurunan 0,04 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2025,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan, bahwa menurut jenis kelamin, pada November 2025, TPT laki-laki sebesar 4,02 persen; yakni lebih rendah dibandingkan TPT perempuan yang sebesar 8,33 persen.
“Apabila dilihat menurut daerah tempat tinggal, TPT perkotaan sebesar 8,12 persen, lebih tinggi dibandingkan TPT perdesaan sebesar 3,85 persen,” katanya.
Agus menambahkan, lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja paling banyak di Aceh adalah pertanian yaitu sebesar 38,75 persen; disusul perdagangan sebesar 14,57 persen; dan administrasi pemerintahan sebesar 7,22 persen.
“Di mana, penduduk bekerja paling banyak berstatus buruh/karyawan/pegawai, yaitu sebesar 31,81 persen,” beber dia.
“Sementara yang paling sedikit berstatus berusaha, dibantu buruh tetap yaitu sebesar 4,39 persen,” ungkap Agus(mti/ril)







